SUDAH TEPATKAH DAKWAH YANG KITA LAKUKAN.?
Dalam ilmu dakwah, kita akan menganal yang namanya ilmu perbandingan dakwah (comparative of dakwah). Ilmu perbandingan dakwah merupakan kajian baru tentang aktivitas dakwah. Sesuai maknanya, “perbandingan dakwah” (muqaranat ad-da’wah), kajian ini mempunyai objek tentang usaha membandingkan aktivititas dakwah beserta unsur-unsurnya, antara satu organisasi maupun lembag dakwah dengan organisasi dan lembaga dakwah berbeda; antara dakwah masa tertentu dengan dengan masa dan ruang waktu yang berbeda; antara dakwah individu atau kelompok dengan dakwah individu ataupun kelompok lainnya; analisis pendekatan dakwah tertentu yang efektif pada masyarakat x, namun tidak relevan dilakukan pada msyarakat y; serta dengan cara menganalisis dan mengategorisasikan berdasarkan ukuran-ukuran dan penilaian-penilaian yang digunakan dan dikembangkan dalam imu dakwah.
Kemudian muncul suatu pertanyaan, mengapa harus “perbandingan dakwah?”. Hal ini dapat dijelaskan melalui beberapa pertimbangan berikut: pertama, konsep perbandingan (comparative) relatif sudah familier digunakan dalam studi perbandingan agama-agama, termasuk juga Islam. Seperti perbandingan agama (comparative religion) yang menjadi landasan dilaksanakannya dakwah atau misi. Perkembangan dakwah menjadi kajian ilmiah terpisah dari studi agama Islam secara umum. Mengkaji dakwah dengan melakukan perbandingan diantara aktivitas dan gerakan dakwah umat Islam merupakan suatu hal yang menantang. Sebab, studi ini merupakan hal yang urgen untuk dimunculkan, dengan asumsi bahwa dengan perbandingan dakwah, maka akan didapatkan pemahaman mengenai cara (method) dan pendekatan (approach) dakwah yang efektif dan efisien sesuai sasaran dakwah, dengan memepertimbangkan ruang dan waktu yang dihadapi oleh para da’I; kedua, bahwa konsep perbandingan terlihat lebih komprehensif dan dapat menggambarkan sudut-sudut tertentu mengenai persoalan dakwah yang memerlukan usaha kategorisasi, sehingga memerlukan ketajaman analisis yang lebih terperinci dan empiris. Studi perbandingan dakwah sangat mendesak ditengah menjamurnya gagasan dan gerakan dakwah sebagai bagian dari implementasi ajaran Islam. Namun demikian, harus diakui bahwa gagasan dan gerakan dakwah tersebut ada yang selaras dengan spirit, arah dan tujuan dakwah da nada pula yang bertentangan dengan spirit nilai-nilai Islam. Gagasan dan gerakan dakwah tersebut pada akhirnya dapat di evaluasi dan diketahui, mana gagasan-gagasan dan gerakan dakwah yang diterima oleh umat, dan mana yang mengganggu dan ditolak umat.
A. Makna perbandingan dakwah
Dalam bahasa yang lebih ringkas, perbandingan dakwah akan berusaha membandingkan asal-usul, struktur dan ciri-ciri dalam pelaksanaan dakwah, dengan maksud menentukan persamaan dan perbedaan yang sebenarnya, sejauh mana hubungan antara suatu aktivitas dakwah kelompok atau organisasi lainnya, dengan tipe-tipe yang sudah didasarkan pada koridor ilmu dakwah pada suatu masa dan konteks masyarakat tertentu.
B. Batasan perbandingan dakwah
Dalam studi komparatif, sesuatu yang dibandingkan harus memenuhi beberapa prasyarat berikut, seperti; Pertama, apa yang dibadingkan harus setara pada setiap unsur dakwah sebagai alat perbandingan. Misalnya, membandingkan antara topik-topik yang disampaikan dalam dakwah, antara da’I dengan da’I dari lembaga atau organisasi dakwah yang berbeda; penekanan pada tema tertentu dari tema lainnya; perbandingan antara sumber informasi dakwah, dengan cara mengambil sumber informasi yang dilakukan oleh lembaga dakwah yang berbeda; atau membandingkan antara media dakwah yang satu dengan media dakwah yang lainnya baik pada aspek akurasi maupun pada aspek ketercapaian dakwah atau tingkat efektivitasnya.
Kedua, perbadingan mesti mengetahui dua atau lebih objek yang akan dibandingkan. Misalnya seorang sarjana dakwah berencana membandingkan bagaimana profil da’i-da’I beriku: Ahmad Azhar Basyir (Muhammadiyah), A. Latife Muchtar (Persis) dan Hasyim Muzadi (NU). Selain ketiga tokoh tersebut setara, juga harus diketahui secara mendalam oleh pembanding, yakni dengan memerhatikan unsur-unsur dakwah. Ketiga, pembanding harus memiliki tujuan dan maksud dari perbandingannya, yang berkaitan dengan target apa dan apa tujuan yang hendak dicapai setelah melakukan perbandingan. Semisal untuk mendeskripsikan peta-peta gagasan dakwah, atau untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan antara objek dakwah yang dibandingkan.
Hasil akademik untuk merumuskan perbandingan dakwah yang baik dalam konteks perkembangan ilmu dakwah nampak sekali masih belum ada, dan kalau adapun masih ditulis secara parsial oleh sarjana-sarjana dari berbagai latar belakang disiplin ilmu. Hal ini menunjukan bahwa masih terdapat kekurangan dalam merumuskan perbandingan dakwah. Apabila kita runutkan, maka kekurangan-kekurangan terebut adalah:
1. Masih kurangnya sumber-sumber ilmiah yang membahas tentang studi perbandingan dakwah. Walaupun studi ini merupakan sesuatu yang penting dalam kajian dakwah, namun usaha kearah analisis dan kategorisasi praktik dakwah tidak banyak dilakukan.
2. Masih kurangnya kegiatan penelitian ilmiah tentang dakwah secara umum, sekalipun disadari bahwa fenomena dan persoalan misi agama atau dakwah selalu aktual, dengan mengikuti perkembangan suatu agama.
3. Masih kurangnya telaah kritis dan kajian mendalam tentang perkembangan dakwah, yang berakibat pada lambannya perkembaangaan ilmu dakwah.
pada konteks perkembangan seperti disponsori oleh lembaga-lembaga agama, baik resmi amupun kerjasama antar lembaga, persoalan minimnya minat studi dakwah dan dominasi pemahaman tradisional tentang dakwah menjadi suatu persoalan yang urgen untuk diselesaikan. Persoalan-persoalan tersebut antara lain:
1. Persepsi masyarakat luas dan beberapa masyarakat akademik tentang dakwah masih berkutat pada persepsi tradisional, yaitu dakwah disamakan dengan ceramah dan tidak lebih dari itu.
2. Masihkurangnya ulama dan cendekiawan yang mendalami ilmu dakwah, sehingga mereka masih memahami dakwah seperti yang dipahami umumnya masyarakat.
3. Muncul dan berjalannya semangat dakwah pada umat Islam tidak dibarengi dengan pendalaman tentang bagaimana dakwah dapat dilakukan secara efektif dan tepat sasaran, dengan menggunakan piranti-piranti ilmu bantu yang efisien.
4. Kurangnya sumberdaya pengkaji dakwah yang konsisten dan eksklusif dalam pengembangan ilmu dakwah.
Dengan demikian, jelaslah bahwa aktivitas dakwah tidak hanya melulu pada kegiatan ceramah saja, akan tetapi lebih luas dari itu semua. Pertanyaanya sudahkan permaslahan-permasalah diatas mampu kita jalankan sebagi seorang aktivis dakwah?. Jika belum, maka masih banyak pekerjaan rumah yang harus kita selesaikan, agar aktivitas dakwah kita dapat berjalan secara maksimal dan tepat sasaran.
DAFTAR PUSTAKA
Aripudin, Acep dan Mudhofir Abdullah. 2014. Perbandingan Dakwah. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. (Hlm. 3-5)
Komentar
Posting Komentar